Progres IKN Melambat, Sektor Konstruksi Kaltim Terseret Turun

Progres IKN melambat, sektor konstruksi Kaltim turun 0,11% pada kuartal II/2025.

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Sektor konstruksi Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kontraksi 0,11% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2025.

Kondisi ini menandai pembalikan drastis dari pertumbuhan positif 3,87% pada periode sebelumnya. Penurunan kinerja ini dipicu oleh melambatnya progres pembangunan fisik Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara setelah percepatan masif pada tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menyatakan landainya sektor konstruksi ini merupakan konsekuensi logis dari penyesuaian anggaran pembangunan IKN yang lebih konservatif pada tahun ini.

"Penurunan kinerja LU konstruksi sejalan dengan progres pembangunan IKN yang termoderasi sejalan dengan penurunan pagu anggaran untuk keseluruhan tahun 2025," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/9/2025).

Lebih jauh, pengadaan semen sebagai barometer aktivitas konstruksi anjlok drastis 33,30% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, prakiraan nilai proyek konstruksi terdistribusi yang sedang berjalan mengalami kontraksi berat 41,5% (yoy).

Tak pelak, sektor perbankan turut merasakan dampaknya. Kredit konstruksi mengalami penurunan 6,24% (yoy) yang mencerminkan berkurangnya gairah investor terhadap proyek-proyek pembangunan di kawasan tersebut.

Segendang sepenarian, sektor perdagangan dan eceran turut mengalami deselerasi meskipun masih dalam pertumbuhan positif. Budi menjelaskan pertumbuhan melambat dari 12,99% (yoy) di kuartal I menjadi 9,91% (yoy) pada kuartal II/2025.

"Normalisasi konsumsi masyarakat pasca HBKN Ramadan dan Idul Fitri di triwulan I 2025 menyebabkan LU perdagangan dan eceran melambat di kuartal II/2025," jelasnya.

Dia menyebutkan, indeks penjualan riil turun dari 134,9 di kuartal I menjadi 130,6 pada periode pelaporan. Penurunan ini terutama didorong oleh merosotnya penjualan kendaraan serta kategori makanan, minuman, dan tembakau.

Adapun, dia menuturkan aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan tercatat sebesar 23,93% (yoy) atau memburuk dari kontraksi 18,54% (yoy) pada kuartal sebelumnya.