
PTPP divestasi aset non-inti Rp1,69 triliun untuk perkuat kas dan kurangi utang, sinyal positif bagi investor. Bagaimana prospek saham PTPP ke depan?
Bisnis.com, JAKARTA ā Langkah strategis PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP) yang melepas sejumlah aset non-inti dinilai tepat di tengah tekanan keuangan yang dialami emiten konstruksi pelat merah dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan divestasi tersebut juga dipandang mampu memperkuat arus kas dan memperbaiki struktur permodalan emiten BUMN karya ini.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai langkah divestasi PTPP cukup strategis karena beban keuangan BUMN Karya naik signifikan akibat proyek jangka panjang dan kebutuhan modal kerja yang besar.
Menurutnya, dengan melepas aset yang bukan bagian dari inti bisnis, PTPP dapat menurunkan leverage sekaligus memperkuat posisi kas perusahaan.
āDivestasi ini memberikan suntikan likuiditas langsung sekaligus mengurangi kebutuhan pendanaan tambahan di aset-aset yang kontribusinya tidak terlalu besar. Oleh karena itu, langkah tersebut cukup strategis untuk memperbaiki fundamental perusahaan ke depan,ā ucapnya saat dihubungi Bisnis.
Kebijakan divestasi juga menjadi sinyal positif bagi investor bahwa manajemen PTPP mulai lebih disiplin dalam mengelola portofolio. Selama ini, kekhawatiran terhadap BUMN Karya banyak berkaitan dengan tingginya utang, tekanan modal kerja, dan kemampuan menghasilkan arus kas operasional yang stabil.
āDengan strategi back to core, investor melihat adanya upaya konkret memperbaiki kesehatan keuangan dan memastikan perusahaan fokus pada proyek dengan cash conversion cycle yang lebih cepat. Ini tentu dapat meningkatkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang PTPP,ā tuturnya.
Kendati demikian, Ekky menilai pasar masih cenderung wait and see terhadap kinerja BUMN karya, termasuk PTPP. Dia memandang, prospek industri konstruksi memang memiliki peluang dari penurunan suku bunga dan kelanjutan proyek infrastruktur, tetapi pemulihan akan berjalan bertahap.
āInvestor ingin melihat realisasi dampak divestasi terhadap arus kas dan beban keuangan sebelum bersikap lebih agresif. Jadi momentum pemulihan PTPP ada, tetapi masih perlu dikonfirmasi lewat kinerja kuartalan berikutnya,ā tutur Ekky.
Dihubungi terpisah, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan penjualan dua aset non-core PTPP menjadi sinyal serius bahwa emiten pelat merah tersebut mulai berbenah dan berfokus pada efisiensi bisnis.
Namun, manfaat dari aksi korporasi ini baru akan terlihat jika dana hasil divestasi digunakan untuk memperkuat modal kerja dan mengurangi utang.
Dia juga menyebut bahwa kebijakan back to core yang tengah dijalankan PTPP menjadi langkah positif yang diperlihatkan kepada investor karena menunjukkan arah bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan.
āBagi investor, strategi tersebut menjadi langkah positif karena menunjukkan arah bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan. Hal ini bisa meningkatkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang PTPP,ā ujar Sukarno.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PTPP bertengger di level Rp380 per saham hingga akhir perdagangan Kamis (13/11). Banderol ini mencerminkan kenaikan 13,10% sejak awal tahun dan menguat 1,06% selama sebulan terakhir.






