
Surya Biru Murni Acetylene (SBMA) akan diversifikasi bisnis ke konstruksi dan pengelolaan limbah, memanfaatkan limbah karbid untuk bahan bangunan.
Bisnis.com, JAKARTAāEmiten produsen gas industri PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) berencana menambah sejumlah lini bisnis baru, termasuk konstruksi dan pengelolaan limbah.
Rini Dwiyanti, Direktur Utama Surya Biru Murni Acetylene, menyampaikan langkah ini bukan sekadar ekspansi, tetapi bagian dari strategi jangka panjang perseroan. Ekspansi akan memperkuat ekosistem bisnis gas industri SBMA melalui pemanfaatan hasil samping produksi acetylene (limbah karbid) menjadi bahan bangunan bernilai tambah.
Langkah ini diumumkan melalui keterbukaan informasi yang dirilis pada 2 Oktober 2025, sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban regulasi sesuai Peraturan OJK Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
āPerubahan lini usaha tersebut telah dinyatakan layak berdasarkan hasil Studi Kelayakan dari Kantor Jasa Penilai Publik independen. SBMA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 10 November 2025,ā paparnya dalam keterangan resmi, Senin (13/10/2025)
Dalam rencana bisnis barunya, SBMA akan menambahkan tujuh Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dimana penambahan ini akan menjadi diversifikasi dan tetap berakar kuat pada industri gas.
Diversifikasi ini dinilai strategis, mengingat meningkatnya permintaan akan jasa konstruksi dan pengelolaan limbah di Kalimantan Timur, khususnya dalam mendukung proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Dengan infrastruktur bisnis yang telah mapan di wilayah tersebut, SBMA berada di posisi strategis untuk menjadi salah satu pemasok utama bahan konstruksi dan layanan industri berkelanjutan.
"SBMA yang beroperasi di Balikpapan punya first mover advantage sebagai anak daerah. SBMA siap menangkap peluang nasional, bukan hanya pelengkap proyek IKN," ujar Rini.
Diversifikasi ini diharapkan mampu membuka sumber pendapatan baru, meningkatkan kinerja keuangan, sekaligus memperkuat citra perusahaan sebagai pelaku industri yang mendukung keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan.
Meski SBMA tengah menghadapi transformasi besar dalam kegiatan usahanya, struktur pemegang saham Perseroan tetap stabil tanpa perubahan signifikan.
Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per September 2025, berikut adalah susunan kepemilikan sahamnya, jumlah investor SBMA yang berakhir pada bulan September 2025 menunjukkan jumlah pemegang saham naik jadi 3.615 user atau naik 146 dari bulan sebelumnya 3.469 investor.
Kestabilan komposisi ini menjadi sinyal positif atas kepercayaan pasar terhadap arah strategis SBMA. Stabilitas komposisi kepemilikan juga menunjukkan bahwa diversifikasi ini disambut dengan optimisme, bukan kekhawatiran.
Dengan diversifikasi ini, SBMA tidak hanya memperluas lini usaha, tetapi juga mengambil posisi sebagai pelaku industri yang mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai.
Rencana produksi material bangunan dari limbah karbid adalah contoh konkret dari upaya perusahaan untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan.
āDiversifikasi ini bukan berarti kami meninggalkan bisnis inti di gas industri. Sebaliknya, kami memperkuat fondasi bisnis tersebut dengan menambahkan sektor yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasi,ā ujar Rini.
Dengan fondasi bisnis gas yang kokoh dan dukungan pasar yang terus meningkat, SBMA melangkah mantap menuju transformasi hijau yang tak hanya memperkuat posisi di industri, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan Indonesia.






